Libatkan Diaspora Tembus Pasar Global, UMKM Jatim Terbanyak

JAKARTA| Pro-Desa.com – Konferensi Diaspora Global Summit 2 yang digelar di IKN dan JS Luwansa Hotel Jakarta menjadi momentum penting bagi penguatan sinergi antara diaspora Indonesia di sejumlah negara dengan sektor UMKM di Tanah Air. Untuk itu, Indonesian Diaspora Network-United (IDN-U) dan Indonesia Diaspora SME Export Empowerment & Development (ID SEED) menggelar sesi diskusi paralel bertajuk “From Local to Global: Diaspora Connectivity in Enhancing the Global Competitiveness of MSME’s” di JS Luwansa Hotel Jakarta sebagai bagian dari konferensi diaspora tersebut.

Sesi yang dihadiri oleh lebih dari 1.500 peserta secara daring dan luring ini dibuka oleh Menteri Koperasi dan UKM RI, Maman Abdurrahman, SE, sebagai keynote speaker. Selain itu ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM, Arief Rahman Hakim, dengan Ira Damayanti, Chairwoman ID SEED.

Bacaan Lainnya

Saat dikonfirmasi wartawan Pro-Desa.com dan DutaIndonesia.com, Rabu (20/8/2025), Ira Damayanti, mengatakan, bahwa UMKM binaan ID SEED, secara umum sekitar 5.000 UMKM dari seluruh Indonesia. “Itu dari Aceh sampai Papua. Untuk Jawa Timur sekitar 800, termasuk yang terbanyak,” katanya.

Dia menjelaskan, kerjasama itu antara Kementerian UMKM dengan ID SEED, di mana pelaku UMKM yang terlibat nanti akan dikurasi oleh tim ID SEED guna memetakan pasar global mana yang paling sesuai dengan profile dan kemampuan UMKM. Sedang negara tujuan ekspor antara lain ASEAN (Malaysia dan Singapura), Jepang, Korea, Timur Tengah, Australia, Belanda, Prancis, Jerman, Amerika Serikat, dan Kanada.

“ID SEED mengkurasi UMKM sesuai dengan profile dan kemampuan UMKM, memberikan capacity building sesuai produk dan target pasar, pendampingan produk, seperti kualitas, kuantitas, kapasitas produksi, kontinuitas bahan baku, kemasan, standarisasi, sertifikasi global, dan pendampingan pasar. Business Matching dan implementasi deliverable sampai diterima di negara tujuan ekspor,” katanya.

Ira membenarkan bahwa tantangan ekonomi global pasti ada, namun daya saing produk Indonesia tetap harus ditingkatkan sehingga dapat diterima ke pasar yang lebih luas. Perubahan kebijakan dapat disikapi dengan mencari negara lain yang lebih memudahkan.

“Karena sebelum ada kebijakan Amerika untuk masuk ke negara tersebut juga tidak mudah untuk bersaing dengan produk negara tetangga sendiri seperti Vietnam, Thailand, Sengapura, dan Malaysia,” ujarnya.

Sebelumnya, dalam sambutan di acara tersebut, Menteri Maman menekankan peran strategis diaspora sebagai “duta ekonomi” yang dapat membuka pintu pasar global bagi produk-produk UMKM unggulan Indonesia.

“UMKM adalah pilar ekonomi nasional. Namun, tantangan terbesar mereka adalah menembus pasar internasional. Diaspora kita memiliki posisi unik dan jaringan yang kuat untuk menjadi jembatan tersebut. Melalui kolaborasi ini, kita tidak hanya meningkatkan ekspor, tetapi juga mentransformasi UMKM menjadi pelaku usaha yang berdaya saing global,”ujar Maman Abdurrahman.

Acara ini ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM, Arief Rahman Hakim, dengan Ira Damayanti, Chairwoman ID SEED. MoU itu menjadi landasan formal untuk mengintensifkan program-program pemberdayaan UMKM, termasuk pelatihan, pendampingan, dan fasilitasi ekspor yang melibatkan jaringan diaspora.

Ira Damayanti menyambut baik penandatanganan ini. Sebab nota kesepahaman ini adalah wujud komitmen nyata pihaknya untuk bergerak bersama pemerintah.

“Tujuan utama acara ini adalah menciptakan ekosistem yang solid di mana diaspora tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga mitra bisnis strategis bagi UMKM. Kami ingin UMKM Indonesia bukan hanya mampu bersaing, tetapi juga mendominasi ceruk-ceruk pasar di berbagai belahan dunia,” ungkap Ira.

Turut hadir sebagai narasumber, Himmatul Aliyah, anggota DPR RI dapil Luar Negeri, yang menyoroti pentingnya dukungan legislatif. “Kami di parlemen akan terus mendorong lahirnya kebijakan yang pro-diaspora dan pro-UMKM. Ini termasuk kebijakan yang memudahkan akses perbankan, perizinan, dan juga dukungan untuk promosi produk UMKM di luar negeri. Sinergi antara pemerintah, diaspora, dan DPR adalah kunci,” kata Himma Muzani.

Sementara itu, Gubernur Provinsi Lampung, Rahmat Mizani Djausal, menyampaikan pandangannya dari perspektif daerah. “Lampung memiliki banyak UMKM dengan produk-produk unggulan, seperti kopi, lada, dan kerajinan. Kolaborasi dengan diaspora memberikan harapan baru bagi UMKM di daerah untuk bisa Go Global. Kami siap mengoptimalkan potensi lokal dengan dukungan jaringan diaspora,” tutur Mirza.

Sesi paralel ini juga menghadirkan diskusi mendalam tentang berbagai model kolaborasi yang telah berhasil, termasuk pemanfaatan platform digital, e-commerce, dan peran diaspora sebagai angel investor bagi UMKM.

Hasil diskusi ini akan menjadi rekomendasi kebijakan yang konkret untuk pengembangan UMKM Indonesia di masa depan. (gas)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *